Rabu, 28 Juni 2023


Seleramu Piye?              

Hingar bingar skripsweet (plesetan dari skripsi) dengan jumlah keseluruhan mencapai 300 lembar pun telah berhasil ku lalui hampir tiga tahun ini, ya karena memang sih aku lulus di tahun 2020, di mana korona masih melanda kurang lebih setahun, korona di tahun 2019 kan? Miris? Hmm mungkin. Bagaimana tidak? Di saat manusia berjenjang mahasiswa pada umumnya di masa-masa indah perkuliahan menikmati perayaan perpisahan melalui agenda “WISUDA” sesuai dengan tahun kelulusannya masing-masing secara langsung, sedangkan aku? Huufftt, hanya dapat menghela nafas dan hiraukan saja. Baiklah, akan ku ceritakan bagaimana nasibku bersama angkatanku hanya dapat menikmatinya dengan menatap layar laptop yang dikoneksikan menggunakan sinyal WiFi milik seseorang yang biasa ku sebut bude atau kakaknya ayah sih lebih tepatnya. Istilah umumnya mungkin lebih ke sebutan “tante” ya, karena bude biasanya silsilah keluarga dalam lingkungan orang Jawa, tidak tahu lagi jika di daerah kalian seperti apa.

Kenalan dulu yuk. Tak kenal maka tak sayang, udah kenal eh kok ditinggal? Kelakuan siapa itu hayooo haha. Aku dikenal dengan sebutan terserah kawanku nyebutnya apa. Ada yang menyebutku dengan sebutan gembul, ada pula yang langsung memanggil nama, yaitu Nisa. Lulusan dari kampus yang dikenal dengan kewartawanannya, ceilaahh gaul dan keren sih katanya kalau mendengar kata “wartawan” karena terkenal di televisi. Padahal mah terkenal itu bonus sih ya kawan-kawan, tugas utama kami ini perantara antara masyarakat dengan Direktur perusahaan tertentu, bahkan Pemimpin Negara beserta jajarannya, artis juga kalau media entertainment.

1.     Tragedi Bikin Pusing, Laptop Remuk!

            Apakah kalian bertanya-tanya “Mengapa aku harus menggunakan laptop milik bude saat wisuda daring?”. Laptopku hancur berkeping-keping usai skripsweet. Layar laptop blank hitam, pinggir layarnya lepas, engsel laptop pun juga tidak ada, sehingga aku membuka kunci laptop secara perlahan dan super duper waspada. Di sisi lain, laptopku saat itu memang tidak ada webcam untuk melakukan aktivitas wisuda secara daring yang sakral tersebut menggunakan situs “Zoom Meeting”.

      Pada 24 atau 25 April 2019, tepatnya aku harus menyelesaikan kegiatan KKN di Desa Lumbangrejo, di mana kelompok kami membantu mengembangkan wilayah tersebut selama 3-4 hari kami melakukan pemotongan kayu, pengecatan kayu, menuliskan petunjuk seperti “Toilet”, “Jangan Injak Rumput”, “Buang Sampah Pada Tempatnya”, dan lain sebagainya, bahkan kami membuatkan cuplikan video sebagai company profile dan hasil video tersebut dipresentasikan di hadapan kelompok lain dan juga disaksikan oleh RT setempat seingatku. Kegiatan KKN ini berbarengan dengan teknisi laptop yang merupakan kawan dari ayahku pun datang ke rumah untuk mengecek kondisi laptop. Orangtua pun memberikan kabar bahwa laptop membutuhkan socket SATA untuk hardisk internal dan engsel laptop.

            Di tengah kesibukan ayah bekerja, beliau menyempatkan waktu untuk mencari kebutuhan tersebut yang biasanya mencari di toko elektronik seperti HiTech Mall Surabaya, yang letaknya bersebelahan dengan tempat wisata legendaris bernama Taman Remaja Surabaya kabarnya mangkrak pada Januari 2023. Inisiatifku untuk mencoba mencari secara virtual melalui toko berlogo keranjang oranye bertuliskan huruf S di tengah keranjang tersebut. Bertemulah toko berinisial A, karena aku pun lupa nama toko dan kapan berinteraksi virtual dengan pihak penjual.

Nisa: “Assalamu’alaikum kak, mau nanya. Jual engsel laptop dell seperti ini kah?”, ujarku dalam fitur “chat“ yang telah disediakan toko oranye. Aku pun mengirimkan foto salah satu engsel yang masih ku simpan di rumah.

Seller: “Bentar kak, saya carikan barangnya masih ada atau tidak”.

Beberapa menit kemudian, seller pun memberikan kabar bahwa engsel yang ku tanyakan pun barangnya masih ada.

Seller: “Barangnya ada kak”.

Nisa: “Berarti gimana ini saya checkout di link yang ini kah? Atau beda lagi?”

Seller: “Beda kak, bentar, saya buat tautannya terlebih dahulu agar kakaknya bisa langsung checkout. Agak malam gapapa ya kak?”

Nisa: “Iya kak, ga masalah. Harganya berapa kak?”

Seller: “100 ribu rupiah kak”.

Nisa: “Itu satu aja atau udah sepasang kak?”, tanyaku masih agak terkaget mendengar harga 100ribu untuk engsel.

Seller: “Sepasang kak”.

Nisa pun menunggu kabar dari seller. Sekitar pukul 9 atau setengah 10 malam, seller pun memberikan info bahwa tautan checkout telah siap untukku.

Seller: “Kak, ini link untuk checkout engsel yang kakak fotoin”.

Nisa: “Iya kak. Kak, ini ada garansi gak sih kak? Takut ga cocok kalo masih bagian dari elektronik gini”.

Seller: “Ada kak, nanti dicoba dulu barangnya pas udah tiba di lokasi kakak. Infokan lagi selanjutnya cocok atau tidaknya”.

Nisa: “Oke kak, makasih”.

Barang yang ditunggu tiba di rumah, membutuhkan sekitar 3-4hari karena toko virtualnya berasal dari Jakarta untuk tiba di Surabaya. Senang, deg-deg’an, dan takut tidak cocok pun bercampur jadi satu karena barang yang dicarinya selama ini di toko offline sekitaran Surabaya pun ternyata dapat ditemukan. Nisa pun berangkat menuju HiTech dengan ayahnya dan menunjukkan engsel yang ia beli di toko oranye kepada teknisi HiTech, alhamdulillah cocok saat dipasang. Socket SATA pun dicarinya di sekitaran HiTech, namun penjual yang dijumpai di HiTech lebih dominan mengeluhkan bahwa spare part laptopku ini memang sulit ditemukan keberadaannya.

2.     Magang Metro TV Surabaya

Seusai KKN di Desa Lumbangrejo, saatnya ku akan membahas bagaimana saya menikmati masa-masa Juli hingga Oktober 2019 di perusahaan Elang Biru ini. Beruntung sekali saya dapat belajar dan bekerjasama dengan wartawan Elang, karena kabarnya sekarang sudah tidak beroperasi lagi. Mobilnya diangkut menuju pusat, yaitu di Jakarta. Peralatan yang masih di kantor ditutup dengan kain hitam, mungkin tujuannya agar tidak kotor sembari nunggu diangkut juga sepertinya, entahlah.

Mahasiswa perkuliahan, juga ada masa magang, mungkin sewaktu SMK di masing-masing sekolah juga ada masa magang juga. Dalam masa magang ini, pihak kampus mengharuskan magang dalam kurun waktu 3 bulan. Awalnya aku dengan 2 orang kawanku berencana untuk magang di CNN karena kami pikir kampus belum ada relasi dengan CNN. Kami bertiga pun survei bagaimana sistem magang di CNN. Setelah ditanyakan ke pihak CNN, ternyata hanya 1 bulan saja magang. Hal ini tentu bentrok dengan ketentuan kampus yang mengharuskan magang minimal 3 bulan lamanya, sehingga kami pun berdiskusi dengan ketua penanggungjawab, sebut saja bu Imelda.

Nisa dan Amel pun mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum menemui bu Imelda di ruangannya, yang lokasinya berdekatan dengan BAAK dan keuangan, kira-kira di tengah. Beruntung bu Imelda masih di lokasi.

Nisa: “Assalamu’alaikum, permisi bu”.

Bu Imelda: “Oh iya sini masuk. Ada apa ya?”

Nisa: “Ini bu, kami bertiga tadi sudah survei bahwa ternyata pihak CNN hanya bersedia memberikan waktu magang sebulan saja”.

Amel: “Iya bu, kami juga sudah berusaha menawarkan waktu magang selama 3 bulan tidak diizinkan”.

Bu Imelda: “Opsi lokasi magang kalian di mana selain CNN?”

Amel: “Kurang tahu bu, saya juga belum konsultasi dengan dosen pembimbing, setelah ini mungkin”.

Bu Imelda: “Yasudah coba survei di lokasi lain. Kalian jurusan apa?”

Nisa: “Broadcasting”

Bu Imelda: “Dua-duanya broadcasting?”

Nisa: “Iya Bu. Yasudah bu kalau begitu, pamit dulu. Assalamualaikum”

            Amel langsung menuju ruang rektor kampus karena harus berdiskusi lebih lanjut terkait nasib magang, dimana dosen pembimbingnya pun langsung rektor kampus, Nisa pun mengantarkan dan menemani. Di depan ruang rektor, ada bangku empuk berwarna biru untuk bersandar, seluruh mahasiswa kampus menyebutnya gedung biru.

Amel: “Gak onok ngono wong’e. Sek tak takok pak Andra, bekne ngerti pak Iskandar ke mana”.

Nisa: “Iyowes coba takon sek. Tak tunggu di bangku biru”.

            Saat hendak bertanya pak Andra, Amel pun melihat pak Iskandar lewat. Nisa yang awalnya menunggu Amel seorang diri untuk menanyakan magang dengan duduk di bangku biru pun sontak ikut berdiri karena menghargai keberadaan rektor.

Amel: “Pak, mau na… Oh ga jadi nanya pak”

Amel beralih pada pak Iskandar: “Pak, mau nanya magang. Ini di CNN ternyata cuma nerima 1 bulan aja. Gimana pak?”, tanya Amel bingung.

Pak Iskandar: “Oh iya bentar ya, coba masuk ruangan saya aja dulu kalian berdua”, pak Iskandar ternyata menyadari keberadaan Nisa juga.

Amel: “Oh iya pak”.

Pak Iskandar pun berjalan ke ruang lain untuk menyelesaikan pekerjaan ataupun tugas lain, sedangkan Nisa bingung mau ngapain karena ia tidak merasa satu kelompok untuk bimbingan dengan rektor.

Nisa: “Opo? Aku melok melbu sisan ta iki berarti, Mel?”

Amel: “Iyo wes melbu ae yok. Wong disuruh masuk kok kata pak Iskandar tadi”.

            Penantian Amel dan Nisa tidak butuh memakan banyak waktu, ternyata pak Iskandar pun muncul Kembali dan mulai menemui kami berdua di ruangannya.

Pak Iskandar: “Maaf ya kalau kalian lama nunggunya”.

Nisa: “Oh iya, ga lama kok pak, hehe”.

Pak Iskandar: “Gimana gimana, mau konsultasi apa hari ini kalian?”

Amel: “Gini pak, kan saya sama Nisa hari ini udah coba survei buat nanya magang di CNN. Nah itu katanya mereka cuma nerima 1 bulan saja. Saya pikir di CNN ini adalah kesempatan besar membuka relasi karena seingat saya di daftar magang itu belum ada CNN, kan yang sering di SCTV atau mana lagi itu temen-temen lain”.

Pak Iskandar: “Bentar, kalian mau kopi? Saya bikinkan bentar kalau mau”.

Amel: “Oh ga usah, terimakasih pak. Takut ngerepotin, hehe”.

Nisa hanya menyimak dan berbicara dalam hati, “obrolan apa ini miskah? Ruang rektor ditawarin kopi?”. Nisa sempat terkejut tetapi berusaha biasa saja agar tidak spontan mengeluarkan ekspresi terkejut.

Pak Iskandar: “Gapapa, santai saja kalau di ruangan saya. Hmm gimana ya, bentar sih coba saya tanyakan teman saya di Kompas”.

Amel: “Nggeh pak”.

Pak Iskandar: “Hee joo, iki loh anakku bingung golek nggon magang. Kompas sek nerima ta?”

Jawaban teman pak Iskandar (anggap saja pak Heru) pun terdengar samar-samar keluar dari telepon genggam milik pak Iskandar “Wes full ternyata cuyy”.

Pak Iskandar: “Selip-selipno talah, sakno iki loh anakku, berapa orang kalian Mel?”

Amel: “Tiga orang pak. Saya, Nisa, sama Sinta. Tapi Sinta masih ada keperluan lain”.

Pak Iskandar: “telu ae boss, full banget ta?”

Pak Heru: “Iyo joh, full. Sepurane ya”.

Singkat cerita, Amel, Nisa, dan Sinta pun berunding lagi. Amel pun tiba-tiba teringat bahwa pernah magang di Metro TV Surabaya saat masih sekolah di bangku SMK. Langsung kami gerak cepat untuk membuat proposal magang, biasanya tempat singgah ternyaman bagiku bersama teman-teman adalah perpustakaan di bagian dalam. Jadi, di dalam perpustakaan ada ruang lagi, khusus untuk kumpulan koran-koran lama dan kami merasa AC di situ lebih terasa, mungkin karena memang tidak banyak manusia sehingga terkesan lebih dingin.

Setelah proposal magang telah kami ketik, kami langsung ke Metro TV Surabaya sekaligus membawa proposal yang telah kami ketik dan print, dikuatirkan full juga seperti Kompas TV. Saat itu hanya ada seorang satpam, sebut saja pak Hendro yang terlihat di kantor Metro, sehingga kami pun menanyakan terkait magang ini biasanya bertemu dengan siapa.

Amel: “Assalamualaikum pak. Mau nanya tentang magang di Metro TV”.

Pak Hendro: “Bentar, saya panggilkan langsung aja ya pak Edwin. Lah iki wong’e moro-moro muncul. Panjang umur”.

Nisa: “Hehe, isooo ae samean pak”.

Amel: “Ini pak, mau nanya. Saya Amel pak. Sek inget ga kira-kira samean ndek aku pak?”, tanya Amel sambil bergurau dengan pak Edwin.

Pak Edwin: “Loh awakmu maneh. Ono opo nduk? Kangen magang kene maneh ta?”

Amel: “Iyo pak. Kita mau magang di sini. Orang 3 termasuk saya”.

Pak Edwin: “Waahh, bagus bagus. Kalian ajukan proposal magang aja nduk”.

Amel: “Oh iya pak, bentar”. Nisa pun peka dan segera membuka resleting tasnya untuk mengeluarkan proposal magang masing-masing. Total Nisa mengeluarkan 3 proposal magang dari tasnya karena tas Amel dan Sinta kecil, dikuatirkan tertekuk.

Pak Edwin: “Rencana berapa lama sih kalian magang di sini? Langsung setahun kah? Hehe”, tanya pak Edwin sambil menunjukkan ekspresi bergurau santai.

Nisa: “A-anu pak. Boleh dipotong lagi ndak itu masa magang?”

Pak Edwin: “6 bulan wes”.

Nisa: “diturunin lagi bisa ndak pak? Kami takut ga selesai skripsi, praktikum, dan lainnya juga disambi magang”.

Pak Edwin: “4 bulan ta?”

Amel: “Dari kampus sih mintanya 3 bulan sih pak. Bagaimana? Apakah boleh?”.

Pak Edwin: “Ihh, dapet apa kamu naaakk kalo 3 bulan aja”.

Amel: “Ilmu berharga sih pastinya”

Nisa: “Dapet hikmahnya juga gapapa pak, hehe”.

            Singkat cerita, kami bertiga (Amel, aku si Nisa, dan Sinta) pun diterima magang dengan periode Juli hingga Oktober 2019. Divisi ketiga orang ini pun berbeda-beda. Sinta diatur untuk mengisi bagian MCR (Master Control Room), Amel menempati divisi Audio, serta Nisa di bagian Camera Studio. Tempat magang pun banyak dari kalangan siswa-siswi SMK daripada kuliah. Meskipun begitu, yang SMK pun ada yang terhitung sudah lama dan dianggap lebih menguasai, tetapi pihak Metro netral dan tidak membedakan antara anak magang berbaju putih (baru) dan berbaju hitam (udah lama dan bertugas untuk membantu mengajarkan pada anggota magang yang baru. Anak magang pun biasa disebut bogang (bocah magang). Kami bertiga pun berusaha mengimbangi antara laporan magang, organisasi AWSTV, dan untuk memikirkan konsep tugas kampus lainnya seperti praktikum tv dan radio, bahkan skripsi.

3.     Pertanyaan Menjebak

            Sebelum wisuda daring berlangsung, dosen dengan jabatan Wakil Ketua dari kampus wartawan tertua di kota pahlawan dan cukup dikenal di kalangan media seperti SCTV, Kompas, dan lain sebagainya, melakukan sebuah survei dengan menanyakan langsung kepada mahasiswanya, sebut saja bu Friska.

Bu Friska: “Ini kira-kira kamu pengennya wisuda offline atau online?”

Nisa: “Online aja bu. Biar terasa kenangan sebelum melepas masa-masa perpisahan dengan teman-teman”

Bu Friska: “Kalau korona gin ikan pasti minta izin terlebih dahulu ya kan. Kira-kira seumpama biaya mahal gapapa meskipun offline?”

Nisa: “Gapapa bu, yang penting offline saja intinya”.

            Ku rasa pertanyaan ini ditujukan semua siswa untuk mengetahui bagaimana pendapat seluruh mahasiswa akhir yang hendak mengakhiri masa perkuliahannya. Hingga pada akhirnya keputusan kampus adalah wisuda tetap berjalan tetapi secara online. Biaya sekitar 700 atau 750ribuan dan kami pun dikirimkan sebuah tas berisi kain greenscreen agar dapat diganti background  saat Zoom, perlengkapan wisuda, dan kartu ucapan.

4.     Freelance Videographer

Pertama kali aku terjun di dunia videographer dalam rangka bekerja komersil adalah ketika wedding Mega dan Doni, yang Mega ini seingetku saudara dari Anggara (anggota organisasi AWSTV), lupa tanggal berapa karena file video editingnya telah disetorkan, dan bekerjasama dengan Karina. Ya meskipun terhitung sering mendapat tugas dari pak Iskandar dokumentasi kegiatan kampus, FGD (Forum Group Discussion), Hari Pers Nasional di kapal Dorolonda juga yang bertugas mencatat intisari ucapan. 9 Oktober 2020 ada wedding lagi di acara tunangan dari Eka dan Sopyan. 29 Maret 2022 jadi fotografernya mantan presenter Net TV Surabaya. Juli 2023 insya Allah akan ada booking lagi, entah jadi foto aja atau sekalian video lagi.

5.     Voice Over Berita, Yeaay!

Pada akhir September 2021, aku dianggap dapat membacakan berita karena ayahku melihat keseharianku berkutat dengan berita, mulai dari dubbing, edit manual seolah seperti berita di televisi, karena beda ya kawan-kawan di televisi beneran itu yang kalian lihat sebagai judul topik dihandle oleh CG (Character Graphic), logo Metro TV di pojok kanan atas tulisan berjalan di bawah itu yang handle pihak MCR. Aku mulai dikirimkan naskah untuk dibacakan, ku rekam suaraku, dan ku kirim ke pihak Kodiklatal TNI AL, ternyata cocok, cek News VO sample

Tidak ada komentar:

Posting Komentar