Hingar bingar skripsweet (plesetan dari skripsi) dengan jumlah keseluruhan
mencapai 300 lembar pun telah berhasil ku lalui hampir tiga tahun ini, ya
karena memang sih aku lulus di tahun 2020, di mana korona masih melanda kurang
lebih setahun, korona di tahun 2019 kan? Miris? Hmm mungkin. Bagaimana tidak?
Di saat manusia berjenjang mahasiswa pada umumnya di masa-masa indah
perkuliahan menikmati perayaan perpisahan melalui agenda “WISUDA” sesuai dengan
tahun kelulusannya masing-masing secara langsung, sedangkan aku? Huufftt, hanya
dapat menghela nafas dan hiraukan saja. Baiklah, akan ku ceritakan bagaimana
nasibku bersama angkatanku hanya dapat menikmatinya dengan menatap layar laptop
yang dikoneksikan menggunakan sinyal WiFi milik seseorang yang biasa ku sebut bude
atau kakaknya ayah sih lebih tepatnya. Istilah umumnya mungkin lebih ke sebutan
“tante” ya, karena bude biasanya silsilah keluarga dalam lingkungan orang Jawa,
tidak tahu lagi jika di daerah kalian seperti apa.
Kenalan dulu yuk. Tak kenal maka tak sayang, udah kenal eh kok ditinggal?
Kelakuan siapa itu hayooo haha. Aku dikenal dengan sebutan terserah kawanku
nyebutnya apa. Ada yang menyebutku dengan sebutan gembul, ada pula yang langsung
memanggil nama, yaitu Nisa. Lulusan dari kampus yang dikenal dengan kewartawanannya,
ceilaahh gaul dan keren sih katanya kalau mendengar kata “wartawan” karena
terkenal di televisi. Padahal mah terkenal itu bonus sih ya kawan-kawan, tugas utama
kami ini perantara antara masyarakat dengan Direktur perusahaan tertentu,
bahkan Pemimpin Negara beserta jajarannya, artis juga kalau media entertainment.
1. Tragedi Bikin
Pusing, Laptop Remuk!
Apakah kalian bertanya-tanya “Mengapa
aku harus menggunakan laptop milik bude saat wisuda daring?”. Laptopku hancur
berkeping-keping usai skripsweet. Layar laptop blank hitam, pinggir
layarnya lepas, engsel laptop pun juga tidak ada, sehingga aku membuka kunci laptop
secara perlahan dan super duper waspada. Di sisi lain, laptopku saat itu memang
tidak ada webcam untuk melakukan aktivitas wisuda secara daring yang sakral
tersebut menggunakan situs “Zoom Meeting”.
Pada 24 atau
25 April 2019, tepatnya aku harus menyelesaikan kegiatan KKN di Desa
Lumbangrejo, di mana kelompok kami membantu mengembangkan wilayah tersebut selama
3-4 hari kami melakukan pemotongan kayu, pengecatan kayu, menuliskan petunjuk seperti
“Toilet”, “Jangan Injak Rumput”, “Buang Sampah Pada Tempatnya”, dan lain
sebagainya, bahkan kami membuatkan cuplikan video sebagai company profile
dan hasil video tersebut dipresentasikan di hadapan kelompok lain dan juga disaksikan
oleh RT setempat seingatku. Kegiatan KKN ini berbarengan dengan teknisi laptop
yang merupakan kawan dari ayahku pun datang ke rumah untuk mengecek kondisi laptop.
Orangtua pun memberikan kabar bahwa laptop membutuhkan socket SATA untuk
hardisk internal dan engsel laptop.
Di tengah kesibukan ayah bekerja,
beliau menyempatkan waktu untuk mencari kebutuhan tersebut yang biasanya
mencari di toko elektronik seperti HiTech Mall Surabaya, yang letaknya
bersebelahan dengan tempat wisata legendaris bernama Taman Remaja Surabaya kabarnya
mangkrak pada Januari 2023. Inisiatifku untuk mencoba mencari secara virtual
melalui toko berlogo keranjang oranye bertuliskan huruf S di tengah keranjang
tersebut. Bertemulah toko berinisial A, karena aku pun lupa nama toko dan kapan
berinteraksi virtual dengan pihak penjual.
Nisa: “Assalamu’alaikum
kak, mau nanya. Jual engsel laptop dell seperti ini kah?”, ujarku dalam fitur “chat“
yang telah disediakan toko oranye. Aku pun mengirimkan foto salah satu engsel
yang masih ku simpan di rumah.
Seller: “Bentar
kak, saya carikan barangnya masih ada atau tidak”.
Beberapa menit kemudian, seller pun memberikan kabar bahwa engsel
yang ku tanyakan pun barangnya masih ada.
Seller: “Barangnya
ada kak”.
Nisa: “Berarti
gimana ini saya checkout di link yang ini kah? Atau beda lagi?”
Seller: “Beda
kak, bentar, saya buat tautannya terlebih dahulu agar kakaknya bisa langsung checkout.
Agak malam gapapa ya kak?”
Nisa: “Iya
kak, ga masalah. Harganya berapa kak?”
Seller: “100 ribu
rupiah kak”.
Nisa: “Itu
satu aja atau udah sepasang kak?”, tanyaku masih agak terkaget mendengar harga
100ribu untuk engsel.
Seller: “Sepasang
kak”.
Nisa pun menunggu kabar dari seller. Sekitar pukul 9 atau setengah
10 malam, seller pun memberikan info bahwa tautan checkout telah siap
untukku.
Seller: “Kak, ini
link untuk checkout engsel yang kakak fotoin”.
Nisa: “Iya
kak. Kak, ini ada garansi gak sih kak? Takut ga cocok kalo masih bagian dari elektronik
gini”.
Seller: “Ada kak,
nanti dicoba dulu barangnya pas udah tiba di lokasi kakak. Infokan lagi selanjutnya
cocok atau tidaknya”.
Nisa: “Oke
kak, makasih”.
Barang yang ditunggu tiba di rumah, membutuhkan sekitar 3-4hari karena toko
virtualnya berasal dari Jakarta untuk tiba di Surabaya. Senang, deg-deg’an, dan
takut tidak cocok pun bercampur jadi satu karena barang yang dicarinya selama
ini di toko offline sekitaran Surabaya pun ternyata dapat ditemukan. Nisa
pun berangkat menuju HiTech dengan ayahnya dan menunjukkan engsel yang ia beli
di toko oranye kepada teknisi HiTech, alhamdulillah cocok saat dipasang. Socket
SATA pun dicarinya di sekitaran HiTech, namun penjual yang dijumpai di HiTech
lebih dominan mengeluhkan bahwa spare part laptopku ini memang sulit
ditemukan keberadaannya.
2. Magang
Metro TV Surabaya
Seusai KKN
di Desa Lumbangrejo, saatnya ku akan membahas bagaimana saya menikmati masa-masa
Juli hingga Oktober 2019 di perusahaan Elang Biru ini. Beruntung sekali saya
dapat belajar dan bekerjasama dengan wartawan Elang, karena kabarnya sekarang sudah
tidak beroperasi lagi. Mobilnya diangkut menuju pusat, yaitu di Jakarta. Peralatan
yang masih di kantor ditutup dengan kain hitam, mungkin tujuannya agar tidak kotor
sembari nunggu diangkut juga sepertinya, entahlah.
Mahasiswa
perkuliahan, juga ada masa magang, mungkin sewaktu SMK di masing-masing sekolah
juga ada masa magang juga. Dalam masa magang ini, pihak kampus mengharuskan
magang dalam kurun waktu 3 bulan. Awalnya aku dengan 2 orang kawanku berencana
untuk magang di CNN karena kami pikir kampus belum ada relasi dengan CNN. Kami bertiga
pun survei bagaimana sistem magang di CNN. Setelah ditanyakan ke pihak CNN,
ternyata hanya 1 bulan saja magang. Hal ini tentu bentrok dengan ketentuan
kampus yang mengharuskan magang minimal 3 bulan lamanya, sehingga kami pun
berdiskusi dengan ketua penanggungjawab, sebut saja bu Imelda.
Nisa dan
Amel pun mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum menemui bu Imelda di
ruangannya, yang lokasinya berdekatan dengan BAAK dan keuangan, kira-kira di
tengah. Beruntung bu Imelda masih di lokasi.
Nisa: “Assalamu’alaikum,
permisi bu”.
Bu Imelda: “Oh
iya sini masuk. Ada apa ya?”
Nisa: “Ini
bu, kami bertiga tadi sudah survei bahwa ternyata pihak CNN hanya bersedia memberikan
waktu magang sebulan saja”.
Amel: “Iya
bu, kami juga sudah berusaha menawarkan waktu magang selama 3 bulan tidak
diizinkan”.
Bu Imelda: “Opsi
lokasi magang kalian di mana selain CNN?”
Amel: “Kurang
tahu bu, saya juga belum konsultasi dengan dosen pembimbing, setelah ini
mungkin”.
Bu Imelda: “Yasudah
coba survei di lokasi lain. Kalian jurusan apa?”
Nisa: “Broadcasting”
Bu Imelda: “Dua-duanya
broadcasting?”
Nisa: “Iya
Bu. Yasudah bu kalau begitu, pamit dulu. Assalamualaikum”
Amel langsung menuju ruang rektor
kampus karena harus berdiskusi lebih lanjut terkait nasib magang, dimana dosen
pembimbingnya pun langsung rektor kampus, Nisa pun mengantarkan dan menemani. Di
depan ruang rektor, ada bangku empuk berwarna biru untuk bersandar, seluruh
mahasiswa kampus menyebutnya gedung biru.
Amel: “Gak
onok ngono wong’e. Sek tak takok pak Andra, bekne ngerti pak Iskandar ke mana”.
Nisa: “Iyowes
coba takon sek. Tak tunggu di bangku biru”.
Saat hendak bertanya pak Andra, Amel
pun melihat pak Iskandar lewat. Nisa yang awalnya menunggu Amel seorang diri untuk
menanyakan magang dengan duduk di bangku biru pun sontak ikut berdiri karena
menghargai keberadaan rektor.
Amel: “Pak,
mau na… Oh ga jadi nanya pak”
Amel
beralih pada pak Iskandar: “Pak, mau nanya magang. Ini di CNN ternyata cuma
nerima 1 bulan aja. Gimana pak?”, tanya Amel bingung.
Pak Iskandar:
“Oh iya bentar ya, coba masuk ruangan saya aja dulu kalian berdua”, pak Iskandar
ternyata menyadari keberadaan Nisa juga.
Amel: “Oh
iya pak”.
Pak Iskandar pun berjalan ke ruang lain untuk menyelesaikan pekerjaan
ataupun tugas lain, sedangkan Nisa bingung mau ngapain karena ia tidak merasa
satu kelompok untuk bimbingan dengan rektor.
Nisa: “Opo?
Aku melok melbu sisan ta iki berarti, Mel?”
Amel: “Iyo
wes melbu ae yok. Wong disuruh masuk kok kata pak Iskandar tadi”.
Penantian Amel dan Nisa tidak butuh memakan
banyak waktu, ternyata pak Iskandar pun muncul Kembali dan mulai menemui kami
berdua di ruangannya.
Pak Iskandar:
“Maaf ya kalau kalian lama nunggunya”.
Nisa: “Oh
iya, ga lama kok pak, hehe”.
Pak
Iskandar: “Gimana gimana, mau konsultasi apa hari ini kalian?”
Amel: “Gini
pak, kan saya sama Nisa hari ini udah coba survei buat nanya magang di CNN. Nah
itu katanya mereka cuma nerima 1 bulan saja. Saya pikir di CNN ini adalah
kesempatan besar membuka relasi karena seingat saya di daftar magang itu belum
ada CNN, kan yang sering di SCTV atau mana lagi itu temen-temen lain”.
Pak
Iskandar: “Bentar, kalian mau kopi? Saya bikinkan bentar kalau mau”.
Amel: “Oh
ga usah, terimakasih pak. Takut ngerepotin, hehe”.
Nisa hanya menyimak dan berbicara dalam hati, “obrolan apa ini miskah? Ruang
rektor ditawarin kopi?”. Nisa sempat terkejut tetapi berusaha biasa saja agar tidak
spontan mengeluarkan ekspresi terkejut.
Pak
Iskandar: “Gapapa, santai saja kalau di ruangan saya. Hmm gimana ya, bentar sih
coba saya tanyakan teman saya di Kompas”.
Amel: “Nggeh
pak”.
Pak
Iskandar: “Hee joo, iki loh anakku bingung golek nggon magang. Kompas sek nerima
ta?”
Jawaban teman
pak Iskandar (anggap saja pak Heru) pun terdengar samar-samar keluar dari
telepon genggam milik pak Iskandar “Wes full ternyata cuyy”.
Pak
Iskandar: “Selip-selipno talah, sakno iki loh anakku, berapa orang kalian Mel?”
Amel: “Tiga
orang pak. Saya, Nisa, sama Sinta. Tapi Sinta masih ada keperluan lain”.
Pak
Iskandar: “telu ae boss, full banget ta?”
Pak Heru: “Iyo
joh, full. Sepurane ya”.
Singkat cerita, Amel, Nisa, dan Sinta pun berunding lagi. Amel pun tiba-tiba
teringat bahwa pernah magang di Metro TV Surabaya saat masih sekolah di bangku
SMK. Langsung kami gerak cepat untuk membuat proposal magang, biasanya tempat
singgah ternyaman bagiku bersama teman-teman adalah perpustakaan di bagian
dalam. Jadi, di dalam perpustakaan ada ruang lagi, khusus untuk kumpulan
koran-koran lama dan kami merasa AC di situ lebih terasa, mungkin karena memang
tidak banyak manusia sehingga terkesan lebih dingin.
Setelah proposal magang telah kami ketik, kami langsung ke Metro TV
Surabaya sekaligus membawa proposal yang telah kami ketik dan print,
dikuatirkan full juga seperti Kompas TV. Saat itu hanya ada seorang satpam,
sebut saja pak Hendro yang terlihat di kantor Metro, sehingga kami pun
menanyakan terkait magang ini biasanya bertemu dengan siapa.
Amel: “Assalamualaikum
pak. Mau nanya tentang magang di Metro TV”.
Pak Hendro:
“Bentar, saya panggilkan langsung aja ya pak Edwin. Lah iki wong’e moro-moro
muncul. Panjang umur”.
Nisa: “Hehe,
isooo ae samean pak”.
Amel: “Ini
pak, mau nanya. Saya Amel pak. Sek inget ga kira-kira samean ndek aku pak?”,
tanya Amel sambil bergurau dengan pak Edwin.
Pak Edwin: “Loh
awakmu maneh. Ono opo nduk? Kangen magang kene maneh ta?”
Amel: “Iyo
pak. Kita mau magang di sini. Orang 3 termasuk saya”.
Pak Edwin: “Waahh,
bagus bagus. Kalian ajukan proposal magang aja nduk”.
Amel: “Oh
iya pak, bentar”. Nisa pun peka dan segera membuka resleting tasnya untuk
mengeluarkan proposal magang masing-masing. Total Nisa mengeluarkan 3 proposal
magang dari tasnya karena tas Amel dan Sinta kecil, dikuatirkan tertekuk.
Pak Edwin: “Rencana
berapa lama sih kalian magang di sini? Langsung setahun kah? Hehe”, tanya pak
Edwin sambil menunjukkan ekspresi bergurau santai.
Nisa: “A-anu
pak. Boleh dipotong lagi ndak itu masa magang?”
Pak Edwin: “6
bulan wes”.
Nisa: “diturunin
lagi bisa ndak pak? Kami takut ga selesai skripsi, praktikum, dan lainnya juga
disambi magang”.
Pak Edwin: “4
bulan ta?”
Amel: “Dari
kampus sih mintanya 3 bulan sih pak. Bagaimana? Apakah boleh?”.
Pak Edwin: “Ihh,
dapet apa kamu naaakk kalo 3 bulan aja”.
Amel: “Ilmu
berharga sih pastinya”
Nisa: “Dapet
hikmahnya juga gapapa pak, hehe”.
Singkat cerita, kami bertiga (Amel,
aku si Nisa, dan Sinta) pun diterima magang dengan periode Juli hingga Oktober
2019. Divisi ketiga orang ini pun berbeda-beda. Sinta diatur untuk mengisi
bagian MCR (Master Control Room), Amel menempati divisi Audio, serta Nisa di
bagian Camera Studio. Tempat magang pun banyak dari kalangan siswa-siswi SMK
daripada kuliah. Meskipun begitu, yang SMK pun ada yang terhitung sudah lama
dan dianggap lebih menguasai, tetapi pihak Metro netral dan tidak membedakan
antara anak magang berbaju putih (baru) dan berbaju hitam (udah lama dan
bertugas untuk membantu mengajarkan pada anggota magang yang baru. Anak magang
pun biasa disebut bogang (bocah magang). Kami bertiga pun berusaha mengimbangi antara
laporan magang, organisasi AWSTV, dan untuk memikirkan konsep tugas kampus
lainnya seperti praktikum tv dan radio, bahkan skripsi.
3. Pertanyaan Menjebak
Sebelum wisuda daring berlangsung, dosen
dengan jabatan Wakil Ketua dari kampus wartawan tertua di kota pahlawan dan
cukup dikenal di kalangan media seperti SCTV, Kompas, dan lain sebagainya,
melakukan sebuah survei dengan menanyakan langsung kepada mahasiswanya, sebut saja
bu Friska.
Bu Friska: “Ini
kira-kira kamu pengennya wisuda offline atau online?”
Nisa: “Online
aja bu. Biar terasa kenangan sebelum melepas masa-masa perpisahan dengan
teman-teman”
Bu Friska: “Kalau
korona gin ikan pasti minta izin terlebih dahulu ya kan. Kira-kira seumpama
biaya mahal gapapa meskipun offline?”
Nisa: “Gapapa
bu, yang penting offline saja intinya”.
Ku rasa pertanyaan ini ditujukan
semua siswa untuk mengetahui bagaimana pendapat seluruh mahasiswa akhir yang
hendak mengakhiri masa perkuliahannya. Hingga pada akhirnya keputusan kampus adalah
wisuda tetap berjalan tetapi secara online. Biaya sekitar 700 atau 750ribuan
dan kami pun dikirimkan sebuah tas berisi kain greenscreen agar dapat
diganti background saat Zoom,
perlengkapan wisuda, dan kartu ucapan.
4. Freelance Videographer
Pertama kali
aku terjun di dunia videographer dalam rangka bekerja komersil adalah ketika
wedding Mega dan Doni, yang Mega ini seingetku saudara dari Anggara (anggota
organisasi AWSTV), lupa tanggal berapa karena file video editingnya telah
disetorkan, dan bekerjasama dengan Karina. Ya meskipun terhitung sering
mendapat tugas dari pak Iskandar dokumentasi kegiatan kampus, FGD (Forum
Group Discussion), Hari Pers Nasional di kapal Dorolonda juga yang bertugas
mencatat intisari ucapan. 9 Oktober 2020 ada wedding lagi di acara tunangan
dari Eka dan Sopyan. 29 Maret 2022 jadi fotografernya mantan presenter Net TV
Surabaya. Juli 2023 insya Allah akan ada booking lagi, entah jadi foto aja atau sekalian
video lagi.
5. Voice Over Berita,
Yeaay!
Pada akhir September 2021, aku dianggap dapat membacakan berita karena ayahku melihat keseharianku berkutat dengan berita, mulai dari dubbing, edit manual seolah seperti berita di televisi, karena beda ya kawan-kawan di televisi beneran itu yang kalian lihat sebagai judul topik dihandle oleh CG (Character Graphic), logo Metro TV di pojok kanan atas tulisan berjalan di bawah itu yang handle pihak MCR. Aku mulai dikirimkan naskah untuk dibacakan, ku rekam suaraku, dan ku kirim ke pihak Kodiklatal TNI AL, ternyata cocok, cek News VO sample
